Dua minggu lalu suamiku pulang kantor dan lihat aku masih duduk di depan laptop jam sebelas malam. Dia kira aku lagi belanja online. Padahal aku sedang bikin daftar perusahaan yang mungkin mau nerima aku kerja lagi setelah tiga tahun jadi ibu rumah tangga penuh waktu. Reaksinya? Kaget. Bukan karena aku mau kerja, tapi karena aku ternyata sudah punya rencana yang rapi. "Sejak kapan kamu mikirin ini?" tanyanya. Ya sejak anak mulai tidur lebih awal, Bang.
Jadi ceritanya begini. Aku bukan perempuan karier yang dulu punya jabatan mentereng. Aku cuma mantan staf administrasi yang resign karena hamil. Tapi belakangan ini, tiap lihat anak main sendiri di lantai, ada rasa aneh di dada. Kayak ada versi diriku yang belum selesai. Bukan berarti aku bosan jadi ibu, ya. Tapi aku pengin punya ruang lain yang juga milikku.
Baca juga: Interview Kerja Anak Baru Punya Bayi: Hemat Tapi Tetap Meyakinkan
Masalahnya, kalau aku googling "cara balik kerja setelah jadi ibu rumah tangga", hasilnya bikin pusing. Ada yang nyuruh ikut bootcamp mahal, ada yang nyuruh bikin portofolio online. Aku cuma punya waktu satu jam tiap malam setelah anak tidur. Jadi aku bikin rencana sendiri. Sederhana aja. Satu minggu, satu langkah kecil tiap hari. Ini yang aku jalanin.
Hari Pertama: Bongkar Ulang CV yang Sudah Berdebu
CV-ku terakhir di-update tahun 2021. Ada bagian yang masih nulis "mahir Microsoft Word" — ya ampun, siapa juga yang nulis gitu sekarang. Hari pertama aku nggak langsung nulis. Aku cuma baca ulang CV lama sambil nandain bagian mana yang bikin aku meringis sendiri.
Baru setelah itu aku buka laptop dan nulis ulang. Yang aku lakuin: hapus semua yang nggak relevan, tambahin pengalaman ngurus keuangan rumah tangga sebagai "manajemen anggaran", dan yang paling penting — aku tulis satu paragraf singkat soal kenapa aku sempat berhenti kerja. Jujur aja. Nggak usah dibikin dramatis. Cukup "mengambil jeda untuk mengurus anak, siap kembali bekerja penuh waktu".
Eh, tapi ada satu hal yang aku sadari. Tiga tahun jadi ibu rumah tangga itu ternyata bukan kosong. Aku jadi lebih sabar, lebih teliti soal detail, dan lebih jago negosiasi — terutama sama anak yang nggak mau makan sayur. Itu semua aku masukin ke CV. Suamiku baca dan cuma bilang, "Ini kamu banget."
Hari Kedua dan Ketiga: Cari Tahu Pasar Kerja Sekarang Itu Kayak Apa
Ini bagian yang paling bikin aku minder. Ternyata banyak lowongan sekarang minta keterampilan yang aku nggak pernah dengar. Ada yang minta bisa pakai aplikasi X, tools Y, dan entah apa lagi. Aku sempat mau nyerah di hari kedua. Serius.
Tapi aku inget satu hal: aku nggak harus jago semuanya. Aku cuma perlu tahu mana yang benar-benar dipakai di posisi yang aku incar. Jadi aku buka lima lowongan yang mirip-mirip, lalu catat kata kunci yang muncul berulang. Ternyata cuma tiga keterampilan yang beneran sering muncul. Tiga. Bukan tiga puluh.
Hari ketiga aku pakai buat nonton tutorial gratis soal tiga keterampilan itu. Nggak sampai jago, tapi cukup buat ngerti istilahnya. Kalau nanti ditanya di wawancara, aku nggak akan bengong kayak ikan koi.
Catatan kecil yang aku tempel di kulkas
"Kamu nggak harus siap 100%. Kamu cuma harus siap ngobrol."
Itu kalimat yang aku tulis sendiri dan aku tempel di pintu kulkas. Tiap buka kulkas buat ambil susu anak, aku baca. Lumayan, nggak bikin panik.
Hari Keempat: Latihan Ngobrol Sama Cermin (dan Suami)
Hari keempat aku mulai latihan jawaban wawancara. Aku tulis dulu pertanyaan yang paling sering muncul: ceritakan tentang diri kamu, kenapa ada jeda di CV, dan kenapa kami harus pilih kamu. Lalu aku jawab pakai suara sendiri, bukan bahasa buku.
Awalnya kaku banget. Aku ngomong kayak pembaca berita. Suamiku yang dengerin sampai ketawa. "Kamu kalau ngomong sama tetangga nggak gini." Nah, itu dia masalahnya. Aku jadi inget, wawancara itu ya cuma ngobrol. Bedanya, yang ngobrolin calon atasan.
Jadi aku ulang lagi, kali ini sambil berdiri di dapur sambil masak. Aneh? Iya. Efektif? Banget. Karena aku jadi lebih santai dan nggak terlalu mikirin kata-kata. Yang penting pesannya nyampe.
Hari Kelima sampai Ketujuh: Kirim, Tunggu, dan Nggak Panik
Hari kelima aku kirim lamaran ke lima tempat. Nggak banyak. Aku sengaja nggak nyebar ke mana-mana karena aku pengin yang beneran cocok, bukan sekadar dapet. Ada rasa deg-degan waktu klik "kirim". Tapi setelah itu, aku tutup laptop dan main sama anak. Hidup nggak berhenti cuma karena aku nunggu balasan email.
Hari keenam dan ketujuh aku pakai buat hal yang lebih santai. Aku cek lagi email sekali sehari, nggak tiap lima menit. Aku juga siapin satu setel baju yang layak buat wawancara — yang masih muat dan nggak bikin aku ngerasa aneh. Soalnya, percaya atau nggak, baju yang nyaman itu ngaruh banget ke rasa percaya diri.
Dan yang paling penting, aku kasih tahu suamiku soal jadwal ini. Bukan minta izin, tapi minta dukungan. Karena kalau nanti ada panggilan wawancara, aku butuh dia jaga anak sebentar. Untungnya dia nggak banyak tanya, cuma bilang, "Kabarin aja, aku atur."
Yang Aku Pelajari dari Seminggu Ini
Rencana ini nggak bikin aku langsung dapet kerja. Aku masih nunggu balasan, dan itu wajar. Tapi seminggu ini ngasih aku sesuatu yang lebih penting: rasa bahwa aku masih bisa. Bahwa tiga tahun di rumah bukan berarti aku jadi orang yang berbeda.
Kalau kamu juga ibu rumah tangga yang lagi mikirin balik kerja, saran aku cuma satu: jangan tunggu sampai "siap". Nggak akan pernah ada momen yang sempurna. Mulai aja dari satu jam tiap malam, satu langkah kecil tiap hari. Nanti juga nyambung sendiri.
Dan buat suami-suami di luar sana, kalau istri kamu tiba-tiba begadang di depan laptop, jangan langsung curiga. Bisa jadi dia lagi nyusun masa depannya. Bantuin jaga anak aja, itu udah paling membantu.